Saya suka sekali menyebutnya: "berdamai dengan masa lalu".
Di hampir setiap novel/tulisan yang membahas tentang masa lalu, saya
menyebutnya begitu. Bahkan jika kalian mengikuti tulisan2 saya, jangan2
hafal dengan pilihan istilah ini.
Kenapa saya menyebutnya demikian? Karena masa lalu memang tidak bisa
diajak perang, diajak ribut. Buat apa? Kalaupun perang, yang kalah,
pasti kita juga. Pun kalau menang, yang jadi arang, kita sendiri juga.
Siapa sih yang bisa melawan hari kemarin? Meski hanya sedetik lalu, masa
lalu itu jauh sekali jaraknya dari kita, tidak bisa direngkuh dengan
kendaraan super apapun (kecuali di film2). Masa lalu sudah tertinggal di
belakang, tidak bisa diulang, tidak bisa di undo, tidak bisa di
restart. Tidak bisa.
Kenangan, orang2 yang pernah mampir dalam hidup kita, kejadian, semuanya sudah berlalu. Suka atau tidak, bahagia atau sebal, kecewa atau nelangsa, game over.
Maka, pilihan tersisa adalah: berdamai. Itulah opsi paling masuk akal. Bukan gencatan senjata, bukan negosiasi, bukan pula tawar menawar. Berdamai. Yang ajaibnya, sekali bisa dilakukan, maka perdamaian sejati memang akan terwujud di dalam hati. Jika tidak terwujud, simply itu berarti kita memang tidak pernah bersedia "berdamai dengan masa lalu".
Demikian.
Kenangan, orang2 yang pernah mampir dalam hidup kita, kejadian, semuanya sudah berlalu. Suka atau tidak, bahagia atau sebal, kecewa atau nelangsa, game over.
Maka, pilihan tersisa adalah: berdamai. Itulah opsi paling masuk akal. Bukan gencatan senjata, bukan negosiasi, bukan pula tawar menawar. Berdamai. Yang ajaibnya, sekali bisa dilakukan, maka perdamaian sejati memang akan terwujud di dalam hati. Jika tidak terwujud, simply itu berarti kita memang tidak pernah bersedia "berdamai dengan masa lalu".
Demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar