Minggu, 15 Juni 2014

PRODUK AL-MUDHARABAH (BAGI HASIL) DALAM ISLAM SEBAGAI SOLUSI PEREKONOMIAN ISLAM

PRODUK AL-MUDHARABAH (BAGI HASIL) DALAM ISLAM SEBAGAI SOLUSI PEREKONOMIAN ISLAM

Oleh: Said Yai, MA
Alhamdulillah. Allah sudah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya permasalahan ekonomi, baik skala mikro (kecil) ataupun skala makro (besar).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl: 89)
Allah subhanahu wa ta'ala juga mengatur seluruh permasalahan yang berhubungan dengan pengembangan usaha bisnis, investasi dan pembagian keuntungan, sehingga umat ini bisa menjalankan usahanya tanpa harus berkecimpung dalam riba dan dosa.

NILAI DIRIMU ADALAH YANG ENGKAU LAKUKAN PADA ORANG LAIN

NILAI DIRIMU ADALAH YANG ENGKAU LAKUKAN PADA ORANG LAIN

Biarkan orang lain berkata apa saja tentang diri Anda terlebih hal-hal yang buruk entah itu fitnah, prasangka bodohnya atau fakta nyata, tapi pastikan bahwa diri Anda lebih sibuk membangun diri serta banyak berbuat kebaikan bagi sesama baik yang terang-terangan juga yang sembunyi-sembunyi.

Apa yang Anda lakukan bagi kebaikan sesama adalah jauh lebih penting daripada yang orang lain katakan tentang diri Anda.

The map is not a teritory. Beberapa orang yang memahaminya umumnya berkesadaran untuk tidak berkata buruk kepada orang lain karena hal itu justru menunjukkan ukuran sempit wawasan hidupnya atas persepsi negatifnya kepada orang lain.

Jadilah orang yang hidup bahagia karena berbagi kebaikan dan membuat orang lain juga merasa bahagia karena dicintai, dipedulikan dan dimanusiakan.
IH 16062014 @bumiDepok ‪#‎sebabhidupadalahCinta‬

Debat Capres II: Prabowo Menunjukkan Sikap Negarawan Sejati Saat Menyalami Jokowi

Debat Capres II: Prabowo Menunjukkan Sikap Negarawan Sejati Saat Menyalami Jokowi

JOKOWI:
Secara objektif, harus saya akui bahwa penampilan Jokowi kali ini jauh lebih baik dibanding debat pertama, minggu lalu. Namun, sikap grogi dan gugupnya masih bertahan. Ketika baru mulai berbicara pun, dia terlihat bengong, bingung, tak tahu harus bicara apa.

Bahkan ketika mendebat Prabowo soal ledakan penduduk, dia berkata dengan terbata-bata, "...bahwa... bahwa... bahwa... dua... dua... dua anak itu cukup..."

(Anehnya, dia menganjurkan dua anak cukup, padahal anaknya sendiri lebih dari dua).

Lucu, karena di tengah kegutupannya, dia masih sempat berkampanye terselubung. Karena kata DUA berulang kali dia lontarkan. Bahkan sambil tertawa cengengesan dia berkata, "Kok dua terus, ya?"

Lantas, dalam berdebat Jokowi lebih banyak membahas hal-hal teknis seputar pemerintahan daerah. Termasuk soal TPID.

Tampak sekali kelasnya, Jokowi masih level pelaksana teknis, belum cocok jadi presiden.

Terlebih ketika bicara soal ongkos kirim produk ke luar negeri, tentang ekonomi kreatif, di bagian inilah Jokowi bica bicara lancar dan penuh percaya diri. Ya, tentu saja. Karena dia memang pengusaha mebel yang berpengalaman.

Saat dia bicara tentang ongkir, terus terang saya teringat pada para pebisnis online. Duhai, memang urusan-urusan seperti ini Jokowi jagonya. Dia memang cocoknya jadi pelaksana teknis saja, atau pemimpin berskala kecil.

Bahkan ketika Prabowo menyalaminya dan setuju dengan ide Jokowi soal ekonomi kreatif, banyak teman yang bercanda bahwa Prabowo membisiki Jokowi, "Nanti kalo aku jadi presiden, kamu aku angkat jadi menteri ekonomi kreatif." Hehehe...

PUKULAN TELAK terhadap Jokowi terjadi ketika dia "jualan" kartu, dan Prabowo mengcounternya dengan bertanya, "Dari mana uangnya (untuk membuat kartu)?" Prabowo pun bercerita tentang kebocoran anggaran. Dan itu membuat Jokowi mati gaya, seperti terlihat pada gambar yang saya share ini

PRABOWO:
Pada debat kali ini, Prabowo menunjukkan sisi pribadinya yang sangat manusiawi, apa adanya. Dia berterus terang bahwa dirinya belum tahu apa itu TPID (tentu saja, sebab level dia adalah level presiden bukan level kepala daerah).

Prabowo pun menunjukkan sikap negarawan sejati saat menyetujui ide Jokowi soal ekonomi kreatif. Banyak pendukung Jokowi yang membulully Prabowo karena adegan ini. Mereka bilang Prabowo mendukung Jokowi sebagai presiden, dan ini bukti bahwa Jokowi lebih hebat.

Mereka tidak tahu, bahwa justru ini menunjukkan sikap negarawan Prabowo yang sangat layak diacungi jempol. Dia tak mau didikte oleh siapapun jika itu menyangkut kebenaran. Prabowo menunjukkan sikap yang sangat objektif dan jujur, bahwa kebenaran harus diakui dari manapun datangnya, termasuk dari saingan politik kita sendiri.

Prabowo adalah sosok pemimpin yang tegas, jujur, objektif, tidak mudah didikte walau oleh tim suksesnya sendiri. Dan ini terlihat dari debat capres tadi malam.

Salut untuk Prabowo. Saya makin yakin untuk memilih beliau saat Pilpres nanti. Insha Allah.

Mari #SelamatkanIndonesia

Cangkang Presiden



Cangkang Presiden memang tidak sama dengan Cangkang Gubernur. Orang yang layak jadi RI SATU itu bukan menyimpan berbagai singkatan dalam kepalanya tetapi memiliki sikap kenegarawanan dalam komunikasi dengan berbagai kalangan bahkan terhadap lawan yang tidak suka dengannya.

Pertaruhan masa depan negeri ini BUKAN soal suka tidak suka tetapi masih tentang kesiapan dan kepantasan pribadi berjiwa kenegarawanan untuk menjadi prangkul semua mpihak di negeri ini. Kalau hanya soal menang-menangan itu cara anak SD.

Dan yang kita saksikan bukan hanya soal kecerdasan EQ saja tetapi kita melihat sendiri bahwa body languagenya juga berbeda.
Jangan salah memilih presiden!