Minggu, 15 Juni 2014

Debat Capres II: Prabowo Menunjukkan Sikap Negarawan Sejati Saat Menyalami Jokowi

Debat Capres II: Prabowo Menunjukkan Sikap Negarawan Sejati Saat Menyalami Jokowi

JOKOWI:
Secara objektif, harus saya akui bahwa penampilan Jokowi kali ini jauh lebih baik dibanding debat pertama, minggu lalu. Namun, sikap grogi dan gugupnya masih bertahan. Ketika baru mulai berbicara pun, dia terlihat bengong, bingung, tak tahu harus bicara apa.

Bahkan ketika mendebat Prabowo soal ledakan penduduk, dia berkata dengan terbata-bata, "...bahwa... bahwa... bahwa... dua... dua... dua anak itu cukup..."

(Anehnya, dia menganjurkan dua anak cukup, padahal anaknya sendiri lebih dari dua).

Lucu, karena di tengah kegutupannya, dia masih sempat berkampanye terselubung. Karena kata DUA berulang kali dia lontarkan. Bahkan sambil tertawa cengengesan dia berkata, "Kok dua terus, ya?"

Lantas, dalam berdebat Jokowi lebih banyak membahas hal-hal teknis seputar pemerintahan daerah. Termasuk soal TPID.

Tampak sekali kelasnya, Jokowi masih level pelaksana teknis, belum cocok jadi presiden.

Terlebih ketika bicara soal ongkos kirim produk ke luar negeri, tentang ekonomi kreatif, di bagian inilah Jokowi bica bicara lancar dan penuh percaya diri. Ya, tentu saja. Karena dia memang pengusaha mebel yang berpengalaman.

Saat dia bicara tentang ongkir, terus terang saya teringat pada para pebisnis online. Duhai, memang urusan-urusan seperti ini Jokowi jagonya. Dia memang cocoknya jadi pelaksana teknis saja, atau pemimpin berskala kecil.

Bahkan ketika Prabowo menyalaminya dan setuju dengan ide Jokowi soal ekonomi kreatif, banyak teman yang bercanda bahwa Prabowo membisiki Jokowi, "Nanti kalo aku jadi presiden, kamu aku angkat jadi menteri ekonomi kreatif." Hehehe...

PUKULAN TELAK terhadap Jokowi terjadi ketika dia "jualan" kartu, dan Prabowo mengcounternya dengan bertanya, "Dari mana uangnya (untuk membuat kartu)?" Prabowo pun bercerita tentang kebocoran anggaran. Dan itu membuat Jokowi mati gaya, seperti terlihat pada gambar yang saya share ini

PRABOWO:
Pada debat kali ini, Prabowo menunjukkan sisi pribadinya yang sangat manusiawi, apa adanya. Dia berterus terang bahwa dirinya belum tahu apa itu TPID (tentu saja, sebab level dia adalah level presiden bukan level kepala daerah).

Prabowo pun menunjukkan sikap negarawan sejati saat menyetujui ide Jokowi soal ekonomi kreatif. Banyak pendukung Jokowi yang membulully Prabowo karena adegan ini. Mereka bilang Prabowo mendukung Jokowi sebagai presiden, dan ini bukti bahwa Jokowi lebih hebat.

Mereka tidak tahu, bahwa justru ini menunjukkan sikap negarawan Prabowo yang sangat layak diacungi jempol. Dia tak mau didikte oleh siapapun jika itu menyangkut kebenaran. Prabowo menunjukkan sikap yang sangat objektif dan jujur, bahwa kebenaran harus diakui dari manapun datangnya, termasuk dari saingan politik kita sendiri.

Prabowo adalah sosok pemimpin yang tegas, jujur, objektif, tidak mudah didikte walau oleh tim suksesnya sendiri. Dan ini terlihat dari debat capres tadi malam.

Salut untuk Prabowo. Saya makin yakin untuk memilih beliau saat Pilpres nanti. Insha Allah.

Mari #SelamatkanIndonesia

Cangkang Presiden



Cangkang Presiden memang tidak sama dengan Cangkang Gubernur. Orang yang layak jadi RI SATU itu bukan menyimpan berbagai singkatan dalam kepalanya tetapi memiliki sikap kenegarawanan dalam komunikasi dengan berbagai kalangan bahkan terhadap lawan yang tidak suka dengannya.

Pertaruhan masa depan negeri ini BUKAN soal suka tidak suka tetapi masih tentang kesiapan dan kepantasan pribadi berjiwa kenegarawanan untuk menjadi prangkul semua mpihak di negeri ini. Kalau hanya soal menang-menangan itu cara anak SD.

Dan yang kita saksikan bukan hanya soal kecerdasan EQ saja tetapi kita melihat sendiri bahwa body languagenya juga berbeda.
Jangan salah memilih presiden!

Sabtu, 31 Mei 2014

Pemakaman Syuhada

Pemakaman Syuhada


Di tengah perjalanan menuju Ma'had Abdurrahman bin Auf, di tengah jalan syaikh Abu Shalih membelokkan motornya ke arah jalan sempit sambil berkata
" Saya mau tunjukkan sesuatu ! "

TINGGAL SATU YANG AKU BELUM TAHU TENTANGMU

TINGGAL SATU YANG AKU BELUM TAHU TENTANGMU
"Kamu nggak takut jadi calon istriku?" Kataku kepada perempuan itu.
"Apa yang harus ditakutkan?" Jawab perempuan itu tersipu.
"Ya apa sajalah."
"Misalnya?"
"Ya misalnya diriku tidak seperti yang engkau impikan selama ini."
"Contohnya?"
"Wajahku tidak seperti Irfan Bachdim misalnya..." Perempuan itu tertawa. Terlihat makin manis wajahnya.Aku membiarkannya.
Dia lalu bersuara, "Mas, aku tidak ingin dirimu seperti orang lain. Engkau adalah pribadi yang unik, tdak ada duanya, semua sisi kau punya. Bicara tajam, romantis, dalem, humor, kadang marah, lucu, sabar, gokil, menggemaskan, menjengkelkan, semua kau punya. Engkau orang yang terus belajar dan berbagi, aku suka.
Aku membayangkan menjalani hari-hariku bersama orang yang apa adanya, memahami tentang perempuan sederhana seperti diriku, sabar dengan segala kekurangan dan keceriwisanku serta mengajak diriku meraih mahligai berkeluarga, itu sesuatu yang sejak lama aku impikan mas. Kamu itu awesome buatku!
Tinggal satu yang aku masih belum tahu tentang dirimu, mas."
"Apa itu?"
"Kapan kau datang melamar diriku lalu menjadikan aku ratu di rumahmu?"
Pip pip pip pip pip pip...
(suara alarm)
Aku membuka mata.
Seperti agak kecewa karena mimpi yang terganggu.
Atau
ini mimpi istimewa yang harus segera diwujudkan menjadi nyata?
Aaargh!
(sambar handuk dan mandi pagi)
~ IH 01062014 @bumiDepok ‪#‎sebabhidupadalahCinta‬

Sabtu, 29 Maret 2014

Membangkang Dari Sang Imam Besar


Membangkang Dari Sang Imam Besar, Munafiq..!???


Sangat disayangkan ketika melihat sikap beberapa teman seperjuangan yang terkesan memiliki mental membangkang dari sikap sang imam pembela islam, mungkinkah mereka tergolong kelompok yang munafiq karena sudah membangkang dari sikap sang imam.?

Menangkan Islam, Tumbangkan Penguasa Sekuler Korup

Menangkan Islam, Tumbangkan Penguasa Sekuler Korup



Menangkan Islam, Tumbangkan Penguasa Sekuler Korup Yang Menjarah Dan Menjajah Indonesia Selama 68 Tahun !
Islamisasi Partai Islam: Pelajaran dari Erdogan
Oleh Nuim Hidayat

 

TAHUN 1955 partai Masyumi partai Islam yang memegang teguh ideology dengan sangat mengesankan meraup 40% suara. Padahal, Partai Masyumi dalam Anggaran Dasar atau Rumah
Tangganya memegang teguh prinsip-prinsip Islam. Di Anggaran Dasar Partai Masjumi ditegaskan:

“Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III).
Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

Berdamai dengan masa lalu

Saya suka sekali menyebutnya: "berdamai dengan masa lalu".

Di hampir setiap novel/tulisan yang membahas tentang masa lalu, saya menyebutnya begitu. Bahkan jika kalian mengikuti tulisan2 saya, jangan2 hafal dengan pilihan istilah ini.

Kenapa saya menyebutnya demikian? Karena masa lalu memang tidak bisa diajak perang, diajak ribut. Buat apa? Kalaupun perang, yang kalah, pasti kita juga. Pun kalau menang, yang jadi arang, kita sendiri juga. Siapa sih yang bisa melawan hari kemarin? Meski hanya sedetik lalu, masa lalu itu jauh sekali jaraknya dari kita, tidak bisa direngkuh dengan kendaraan super apapun (kecuali di film2). Masa lalu sudah tertinggal di belakang, tidak bisa diulang, tidak bisa di undo, tidak bisa di restart. Tidak bisa.

Kenangan, orang2 yang pernah mampir dalam hidup kita, kejadian, semuanya sudah berlalu. Suka atau tidak, bahagia atau sebal, kecewa atau nelangsa, game over.

Maka, pilihan tersisa adalah: berdamai. Itulah opsi paling masuk akal. Bukan gencatan senjata, bukan negosiasi, bukan pula tawar menawar. Berdamai. Yang ajaibnya, sekali bisa dilakukan, maka perdamaian sejati memang akan terwujud di dalam hati. Jika tidak terwujud, simply itu berarti kita memang tidak pernah bersedia "berdamai dengan masa lalu".

Demikian.

Berdamai dengan masa lalu